BRIN

BRIN Luncurkan Indeks Daya Saing Daerah 2025 untuk Arah Pembangunan Nasional

BRIN Luncurkan Indeks Daya Saing Daerah 2025 untuk Arah Pembangunan Nasional
BRIN Luncurkan Indeks Daya Saing Daerah 2025 untuk Arah Pembangunan Nasional

JAKARTA - Upaya memperkuat peran daerah dalam pembangunan nasional kini memasuki babak baru. 

Pemerintah melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) resmi meluncurkan Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025 sebagai instrumen berbasis data yang dirancang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang produktif, inklusif, dan berkelanjutan. Kehadiran indeks ini diharapkan mampu menjadi rujukan strategis bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan pembangunan yang lebih terarah dan berbasis bukti.

Peluncuran IDSD 2025 berlangsung di Jakarta, Selasa, dan menjadi bagian dari komitmen BRIN untuk memperkuat fondasi daya saing nasional melalui penguatan kapasitas daerah. Dalam konteks pembangunan jangka panjang, indeks ini dinilai penting untuk menjembatani kesenjangan antarwilayah sekaligus memacu inovasi daerah di tengah dinamika global yang kian cepat.

IDSD 2025 sebagai Instrumen Strategis Berbasis Data

Kepala BRIN Arif Satria menjelaskan bahwa Indeks Daya Saing Daerah 2025 dirancang agar mudah dipahami oleh para pemangku kepentingan di daerah. Menurutnya, IDSD tidak hanya berfungsi sebagai alat pemeringkatan, tetapi juga sebagai cermin untuk melihat posisi dan potensi masing-masing daerah dalam mendukung daya saing nasional.

“Itulah sebabnya BRIN berusaha untuk melakukan upaya pengukuran ini, karena salah satu tugas BRIN adalah melakukan pengukuran indeks untuk berbagai ukuran pembangunan,” kata Arif.

Ia menegaskan bahwa IDSD 2025 disusun sebagai alat bantu bagi daerah untuk mengenali kekuatan dan kelemahan masing-masing sektor pembangunan. Dengan pemahaman tersebut, pemerintah daerah diharapkan mampu merancang intervensi kebijakan yang lebih tepat sasaran dan berdampak nyata bagi masyarakat.

Bukan Ajang Prestasi, Melainkan Alat Penguatan Daerah

Lebih jauh, Arif menekankan bahwa indeks ini tidak dimaksudkan sebagai ajang kompetisi semata. Menurutnya, IDSD 2025 justru menjadi bahan evaluasi yang konstruktif untuk memperkuat kapasitas daerah dalam menghadapi tantangan pembangunan.

Arif menilai, daya saing daerah tidak dapat dilepaskan dari kekuatan riset dan pengembangan, inovasi, kewirausahaan, serta kualitas sumber daya manusia. Keempat aspek tersebut menjadi fondasi utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

“Pertumbuhan ekonomi itu akan sangat tergantung pada kekuatan R&D, kekuatan inovasi, kekuatan entrepreneurship, dan kekuatan human capital,” ujarnya.

Dengan pendekatan ini, IDSD 2025 diharapkan mampu mendorong daerah untuk tidak hanya mengejar angka pertumbuhan, tetapi juga membangun ekosistem pembangunan yang kokoh dan adaptif terhadap perubahan.

Tantangan Perubahan Cepat di Era Teknologi

Dalam paparannya, Arif juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi umat manusia saat ini, yakni kecepatan perubahan yang semakin sulit diantisipasi. Ia menggambarkan bahwa perubahan teknologi terjadi jauh lebih cepat dibanding perubahan individu, sementara perubahan individu pun melampaui kecepatan adaptasi dunia usaha dan kebijakan publik.

Kondisi ini, menurut Arif, menuntut strategi pembangunan yang matang dan visioner. Tanpa perencanaan berbasis proyeksi jangka panjang, daerah berisiko tertinggal dalam memanfaatkan peluang yang muncul dari kemajuan teknologi.

Oleh karena itu, BRIN memandang perlu adanya upaya proyeksi perkembangan teknologi ke depan sebagai dasar penyusunan kebijakan riset dan inovasi nasional maupun daerah.

“BRIN punya tugas bagaimana kita ini bisa melakukan upaya proyeksi terhadap perkembangan teknologi ke depan akan seperti apa. Teknologi ke depan harus kita proyeksikan dari sekarang, sehingga dengan proyeksi teknologi ke depan 2030, 2035, 2040, itu kita tarik mundur dengan penyiapan kerangka risetnya seperti apa,” ungkapnya.

Inovasi Masa Depan dan Arah Pembangunan Daerah

Arif juga mencontohkan perubahan paradigma di berbagai sektor strategis yang harus mulai diantisipasi oleh daerah. Dalam sektor energi, misalnya, ketergantungan pada energi fosil dinilai tidak lagi relevan, seiring berkembangnya energi hijau seperti hidrogen.

Di sektor transportasi, pengembangan baterai kendaraan listrik pun bergerak ke arah teknologi baru yang tidak lagi bergantung pada bahan konvensional. Sementara di bidang pangan, inovasi mengarah pada konsep future food dan protein masa depan berbasis teknologi.

“Seperti energi, ketika bicara energi, tidak mungkin lagi kita bicara energi fosil, tapi sekarang green hydrogen menjadi kekuatan. Ketika kita bicara tentang baterai untuk mobil, tidak lagi bicara tentang baterai berbasis nikel misalnya, (tapi) berbasis graphene. Ketika kita bicara soal protein, maka yang kita bicarakan adalah tentang future protein, future food, pola-pola pangan yang memang berbasis pada teknologi, culture meat dan sebagainya,” lanjut Arif.

Perubahan ini menuntut kesiapan daerah untuk beradaptasi melalui kebijakan berbasis riset dan inovasi yang berkelanjutan.

Menuju Indonesia Emas 2045 dengan IDSD 2025

Di akhir pernyataannya, Arif mendorong seluruh pemerintah daerah di Indonesia untuk menjadikan IDSD 2025 sebagai acuan utama dalam implementasi kebijakan pembangunan. Ia menilai indeks ini dapat menjadi alat penting untuk mewujudkan pemerataan pembangunan antarwilayah, terutama dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

Menurutnya, kekuatan riset dan inovasi akan menjadi modal utama Indonesia untuk bersaing di tingkat global pada masa mendatang. Dengan sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan ekosistem riset, Indonesia diyakini mampu menempati posisi strategis dalam perekonomian dunia.

“Tumbuhnya riset dan inovasi ini akan menjadi kekuatan bagi Indonesia ke depan, karena Indonesia akan menjadi empat besar dunia pada tahun 2050 nanti. Tidak ada cara lain selain kekuatan dari capital dan kekuatan inovasi,” tutur Arif.

Ia pun menegaskan kesiapan BRIN bersama Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) untuk terus memperkuat ekosistem riset dan inovasi di daerah, agar IDSD 2025 benar-benar menjadi pendorong kemajuan pembangunan nasional yang berkelanjutan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index